Menu ✖

Mode Gelap
Menembus Jalan Berlumpur, Mantri BRI Alifia Naura Layani Nasabah di Pelosok OKI Curi Getah Karet, Pria di OKU Diamankan Warga hingga Diamuk Massa PLN Resmikan SPKLU Center Pertama di Sumsel, Transaksi Pengisian Mobil Listrik Tembus 28 Ribu Kali Bupati OKU Lantik 11 Pejabat, Kinerja Jadi Sorotan dalam 3 Bulan PLN dan DPRD Lahat Perkuat Sinergi, Bahas Keandalan Listrik hingga SPKLU AZKO Resmi Buka Toko Perdana di Baturaja, 70 Persen Karyawannya Putra Daerah OKU

Daerah

Menembus Jalan Berlumpur, Mantri BRI Alifia Naura Layani Nasabah di Pelosok OKI

Kayuagung, ogannews.com – Jalan tanah yang berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan bukan menjadi alasan bagi Alifia Naura Nazifah untuk berhenti mendatangi warga.

Dengan sepeda motor, Mantri BRI Unit Sumber Hidup, BRI Branch Office Kayu Agung itu menyusuri jalan antardesa untuk menemui para debitur yang tersebar di Desa Tanjung Makmur, Desa Kayu Labu, dan Desa Sido Mulyo, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Medan yang dilalui tidak selalu mudah. Sebagian jalan menuju permukiman maupun perkebunan warga masih berupa jalan tanah yang licin ketika diguyur hujan.

Namun, bagi Alifia, kondisi tersebut merupakan bagian dari tugasnya untuk memastikan masyarakat di wilayah perdesaan tetap mendapatkan akses layanan perbankan.

Ratusan debitur yang menjadi tanggung jawabnya mayoritas menjalankan usaha yang berkaitan dengan sektor perkebunan, terutama kelapa sawit dan karet. Sebagian lainnya bergerak di sektor perdagangan seperti toko sembako dan usaha manisan.

“Keputusan saya bergabung dengan BRI sebagai Mantri didasari oleh keinginan kuat untuk berkontribusi secara nyata pada pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan, khususnya di wilayah Sumatera Selatan,” ujar Alifia.

Menurutnya, luasnya jaringan BRI hingga ke wilayah pelosok memberikan kesempatan bagi seorang Mantri untuk berperan lebih dekat dengan masyarakat, terutama dalam membuka akses terhadap pembiayaan usaha.

“BRI memiliki jangkauan yang sangat luas hingga ke pelosok, sehingga profesi Mantri memberikan saya ruang untuk menjadi jembatan akses keuangan bagi masyarakat yang membutuhkan permodalan,” katanya.

Bagi Alifia, pekerjaan sebagai Mantri bukan sekadar mendatangi debitur untuk urusan administrasi maupun angsuran.

Setiap kunjungan ke rumah atau kebun menjadi kesempatan untuk melihat langsung perkembangan usaha nasabah. Ia berbincang dengan masyarakat, mendengarkan berbagai kendala yang dihadapi, hingga mengamati aktivitas mereka di kebun sawit dan karet.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih dekat sekaligus memahami kondisi usaha debitur secara nyata.

“Membangun kepercayaan masyarakat desa memerlukan pendekatan humanis yang berlandaskan kearifan lokal. Saya selalu berusaha untuk bersikap terbuka, ramah, dan hadir bukan sekadar sebagai pihak perbankan, melainkan sebagai kawan diskusi yang memahami tantangan keseharian mereka,” ungkapnya.

Dari komunikasi tersebut, Alifia dapat membantu memberikan solusi pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan usaha masyarakat.

Produk pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari modal kerja, investasi hingga peremajaan lahan perkebunan.

Ketika akses menuju lokasi sulit dilalui, ia pun tidak serta-merta membatalkan kunjungan. Koordinasi terlebih dahulu dilakukan dengan tokoh masyarakat maupun ketua kelompok tani untuk memastikan keberadaan debitur sebelum turun langsung ke lapangan.

Rutinitas mengunjungi masyarakat di berbagai pelosok OKI perlahan memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar pekerjaan bagi Alifia.

Pertemuan dengan ratusan debitur, perjalanan melewati medan sulit, serta cerita perjuangan para pelaku usaha membuatnya melihat pekerjaannya dari perspektif yang lebih personal.

Menurut Alifia, setiap debitur memiliki cerita dan perjuangan masing-masing. Berkas pembiayaan yang diproses di kantor, menurutnya, pada akhirnya berkaitan dengan harapan keluarga untuk memperbaiki kehidupan.

“Pelajaran hidup terbesar yang saya peroleh adalah pentingnya empati, ketekunan, dan rasa syukur. Berinteraksi langsung dengan ratusan debitur mengajari saya bahwa di balik setiap berkas kredit yang disetujui, ada harapan sebuah keluarga untuk kehidupan yang lebih sejahtera,” tuturnya.

“Menjadi bagian dari perjuangan mereka adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai,” sambung Alifia.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, kisah Alifia menggambarkan bagaimana peran Mantri BRI berada sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan.

Menurutnya, kedekatan Mantri dengan masyarakat memungkinkan BRI memahami perkembangan usaha nasabah secara langsung sekaligus membangun hubungan yang kuat dengan komunitas di wilayah kerja.

“Peran seperti Alifia menunjukkan bahwa Mantri BRI memiliki posisi penting dalam membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat sekaligus memahami perkembangan usaha mereka secara langsung,” ujar Dhanny.

Ia menambahkan, kedekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan BRI dalam memperluas inklusi keuangan melalui layanan dan pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Sekaligus memastikan kehadiran BRI dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat di berbagai wilayah,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga

PLN dan DPRD Lahat Perkuat Sinergi, Bahas Keandalan Listrik hingga SPKLU

24 September 2026 - 16:43 WIB

Suami Tewas Ditikam Istri di OKI, Ini yang Terjadi Sebelum Peristiwa Maut

21 September 2026 - 15:16 WIB

Di Momen HPN 2026, PLN Wujudkan Mimpi Bapak Mino Punya Listrik Sendiri

2 September 2026 - 16:30 WIB

Jaringan Air Tanah Jadi Andalan Baru Petani OKU, Bupati Teddy: Jangan Sampai Rusak

24 Agustus 2026 - 07:40 WIB

Hujan Deras Ganggu Jaringan Listrik, PLN ULP Lembayung Kerahkan 31 Personel Pulihkan Listrik di Lahat

19 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Trending di Daerah