
Ogannews.com – Di antara ribuan wajah bahagia dalam prosesi pengukuhan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), ada satu sosok yang mencuri perhatian.
Dialah Jauhari, pria berusia 56 tahun yang akhirnya menggapai mimpinya menjadi bagian dari aparatur sipil negara, setelah lebih dari tiga dekade mengabdi sebagai tenaga kebersihan.
Di usianya yang tak lagi muda, Jauhari membuktikan bahwa kerja keras, ketulusan, dan semangat pantang menyerah selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.
Pengukuhan PPPK Paruh Waktu ini dilakukan langsung oleh Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah, di mana tercatat 3.068 tenaga honorer resmi menyandang status ASN PPPK Paruh Waktu. Dari jumlah itu, terdiri atas 2.362 tenaga teknis, 357 tenaga guru, dan 349 tenaga kesehatan.
Menariknya, tak semua yang dikukuhkan berasal dari kalangan muda. Jauhari menjadi salah satu bukti bahwa usia bukan penghalang untuk berjuang dan berbakti bagi negeri.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bupati OKU atas kesempatan ini. Akhirnya, perjuangan panjang saya terbayar,” ungkap Jauhari penuh haru, Jumat (31/10).
Ia mulai bekerja sebagai tenaga kebersihan di Kantor Kotip Baturaja pada tahun 1993 dengan gaji hanya Rp60 ribu per bulan.
Empat tahun kemudian, ia pindah ke Dinas Kebersihan Pasar, lalu sejak awal tahun 2000-an hingga kini mengabdi di Sekretariat DPRD OKU dengan gaji Rp700 ribu.
Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan semangat besar. Jauhari tak pernah menyerah pada keadaan. Demi memenuhi persyaratan administrasi PPPK, ia rela mengikuti pendidikan sekolah paket di usia yang sudah tidak muda lagi. Itu menjadi bukti nyata bahwa belajar dan berjuang tak mengenal waktu.
“Kalau saya yang sudah 56 tahun masih bisa berjuang, anak muda tentu lebih bisa. Jangan cepat menyerah, terus kejar apa pun cita-cita kalian,” pesan Jauhari dengan senyum tulus.
Kepala BKPSDM OKU, Mirdaili (Ameng), mengungkapkan bahwa dari total 3.085 formasi yang disiapkan, sebanyak 3.068 orang dinyatakan memenuhi syarat.
“Sebanyak 17 orang tidak memenuhi syarat karena berbagai alasan, mulai dari tidak melengkapi berkas, mengundurkan diri, hingga tidak aktif lagi,” jelasnya.
Kisah Jauhari menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang masih berjuang dari bawah. Di usianya yang ke-56 tahun, semangatnya mengabdi tanpa pamrih menjadi contoh nyata bahwa pengabdian tak pernah mengenal batas usia. (*)








