
ADA masa ketika sahur di rumah Elmawati dimulai dengan satu pertanyaan: “Ledeng idup idak?” Jika keran hanya menetes atau bahkan kering, ia harus mengandalkan air tampungan yang kadang keruh bak kopi susu. Namun Ramadan kali ini, keran itu mengalir jernih. Itulah sebuah perubahan kecil yang terasa besar bagi banyak warga.
Penulis: M. Taufiq
Menjelang waktu sahur di Desa Airpaoh, Kecamatan Baturaja Timur, dapur Elmawati (59) sudah hidup sejak pukul tiga dini hari. Ia menanak nasi, memanaskan lauk, lalu beberapa kali berjalan ke arah keran.
Air harus mengalir. Tanpa itu, semua pekerjaan rumah bisa tertunda.
Beberapa tahun lalu, suasana sahur seperti ini sering diwarnai rasa cemas. Saat Ramadan, ribuan warga bangun hampir bersamaan dan menggunakan air dalam waktu yang sama. Tekanan air melemah, bahkan tak jarang mati total.
Ketika hujan deras mengguyur hulu Sungai Ogan hingga membuat air baku keruh, warga menyebut warnanya seperti kopi susu. Di sudut dapur Elma, dulu selalu ada drum plastik besar yang diisi penuh menjelang puasa sebagai cadangan.
“Sekarang sudah jarang ledeng mati. Dulu kalau puasa galak waswas. Harus pakai sanyo,” katanya.
Perubahan yang dirasakan warga tidak datang tiba-tiba. Perumda Tirta Raja sempat berada dalam kondisi sulit. Pada 2023, perusahaan daerah ini mencatat kerugian sekitar Rp500 juta dengan akumulasi beban kerugian mencapai Rp37,2 miliar. Infrastruktur banyak yang menua, tingkat kebocoran jaringan tinggi, dan kepercayaan publik menurun.
Memasuki 2024, kondisi mulai membaik. Perusahaan membukukan laba Rp181 juta serta meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Tahun 2025, laba diproyeksikan meningkat hingga Rp1,7 miliar. Jika target itu tercapai, Tirta Raja bukan hanya bertahan, tetapi mulai memberi kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten OKU.
Salah satu keputusan penting adalah penyesuaian tarif air setelah lebih dari satu dekade tidak berubah. Kebijakan ini sempat memicu pro dan kontra. Namun manajemen menilai langkah tersebut diperlukan agar perbaikan bisa berjalan.
Direktur Perumda Tirta Raja, Drs. Bertho Darmo Poedjo Asmanto, MBA, dalam pemaparan evaluasi kinerja akhir 2025 menjelaskan bahwa BUMD memiliki dua mandat utama: memberikan pelayanan publik yang optimal dan berkontribusi terhadap pendapatan daerah.
Menurutnya, setelah tarif disesuaikan, sejumlah pembenahan dapat dilakukan lebih terukur. Pompa produksi diperbarui, jaringan pipa dan valve diganti, armada mobil tangki diperkuat, serta water meter pelanggan mulai diremajakan. Sekitar 72 persen pendapatan dialokasikan untuk peningkatan layanan, sementara 28 persen untuk biaya operasional pegawai.
“Dengan kondisi yang semakin stabil ini, insya Allah Tirta Raja siap mulai berkontribusi terhadap PAD OKU,” ujarnya.

Pembenahan juga terlihat pada penurunan tingkat kehilangan air. Dari sebelumnya 41,25 persen, kini turun menjadi 39,36 persen. Angka ini memang belum ideal, tetapi menunjukkan tren penurunan yang mulai konsisten.
Di internal perusahaan, disiplin pegawai diperkuat melalui penerapan aplikasi Tirra untuk absensi dan monitoring kinerja. Pelatihan sumber daya manusia dilakukan berkala. Transparansi laporan keuangan ditingkatkan, yang berujung pada raihan opini WTP pada 2024.
Upaya tersebut turut membawa pengakuan eksternal. Perumda Tirta Raja meraih predikat Excellent Water Utility Company in Improving Quality Water Service dalam ajang ASEAN-Indonesia The Most Innovative Excellent Award 2025.
Namun transformasi belum sepenuhnya selesai. Tingkat kehilangan air masih harus ditekan hingga di bawah 30 persen. Infrastruktur lama masih memerlukan peremajaan bertahap. Risiko kekeruhan Sungai Ogan saat musim hujan tetap menjadi tantangan tersendiri.
Perusahaan kini mulai menyiapkan langkah menuju Smart Water Company, termasuk rencana penerapan sistem pengendalian distribusi berbasis teknologi serta pengembangan layanan air minum dalam kemasan. Target layanan 24 jam penuh menjadi agenda jangka menengah yang ingin dicapai.
Bagi masyarakat, perubahan paling terasa pada momen seperti Ramadan. Konsumsi meningkat dan penggunaan air terjadi hampir bersamaan, namun keluhan tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Sejak Ramadan 2025, rumah-rumah ibadah pelanggan bahkan dibebaskan dari tagihan air sebagai bagian dari kebijakan sosial perusahaan.

Di dapur Elma, tidak lagi terlihat drum plastik besar yang dulu selalu disiapkan menjelang puasa. Kini ia cukup memutar keran. Air mengalir seperti seharusnya.
Elma mungkin tidak mengenal istilah non-revenue water atau Smart Water Company. Tetapi ia memahami satu hal sederhana: sahurnya tidak lagi diwarnai kekhawatiran soal air.
Perjalanan Tirta Raja masih panjang. Tantangan tetap ada, dan konsistensi menjadi kunci agar capaian hari ini tidak berhenti sebagai euforia sesaat. Namun perubahan dalam dua tahun terakhir memberi tanda bahwa arah perbaikan mulai terlihat.
Bagi perusahaan, transformasi adalah soal tata kelola, keuangan, dan teknologi. Bagi masyarakat, itu soal kepercayaan yang kembali tumbuh setetes demi setetes, setiap kali keran diputar menjelang sahur. (Fiq)







