Menu

Mode Gelap
PLN dan KKP Perkuat Sinergi, Listrik Andal Siap Dongkrak Produktivitas Sektor Kelautan dan Perikanan BRI BO Baturaja Salurkan Bantuan CSR 1 Unit Traktor untuk Lumbung Pangan Bakti Tani, Dorong Kemajuan Sektor Pertanian di OKU Timur 716 Agen BRILink Capai Target BEP, BO Baturaja Catat Kinerja Positif Hingga 25 Juni 2026 Inovasi Bayar SPP Pakai Sampah Raih Penghargaan, Program Binaan PLN Bantu 153 Anak Tetap Sekolah Hadirkan Pelayanan Cepat, PLN ULP Muara Aman Perkuat Budaya PS4 Makin Serius, OKU Bersiap Miliki Pabrik RDF Sampah Bernilai Ekonomi Tinggi

Sejarah

Dihadang Sebelum Menikah? Ini Makna Pengadangan ala Suku Ogan

Adat pernikahan suku Ogan. Foto: Internet.

Ogannews.comDalam kehidupan masyarakat adat di Indonesia, setiap momen sakral seperti pernikahan selalu dibalut dengan tradisi yang sarat makna. Di Sumatera Selatan, suku Ogan punya tradisi pernikahan yang cukup menarik dan masih dipertahankan sampai sekarang, namanya pengadangan.

Apa Itu Tradisi Pengadangan?

Pengadangan ini merupakan bagian dari prosesi nikah adat suku Ogan, di mana pihak keluarga perempuan ‘menyambut’ rombongan pengantin pria dengan cara yang unik. Jadi, saat calon pengantin pria dan rombongannya tiba di rumah mempelai wanita, mereka nggak langsung bisa masuk begitu saja—harus ‘dihadang’ dulu sama keluarga besar si perempuan sebelum bisa lanjut ke pelaminan.

Eits, jangan salah sangka—pengadangan ini bukan bentuk penolakan, kok. Justru ini cara keluarga perempuan menunjukkan rasa hormat dan menjaga kehormatan adat dalam pernikahan. Rombongan pria biasanya harus “membayar” sejumlah uang atau seserahan secara simbolik agar bisa melewati hadangan tersebut.

Makna di Balik Pengadangan

  1. Menjaga Martabat Perempuan

Tradisi ini menunjukkan bahwa pihak keluarga perempuan tidak serta-merta menyerahkan anak gadis mereka. Ada proses simbolik untuk menunjukkan bahwa sang perempuan adalah sosok berharga dan perlu diperjuangkan.

  1. Tanda Keseriusan dari Pihak Laki-Laki

Dengan “membayar” atau memberikan sesuatu saat pengadangan, pihak laki-laki membuktikan bahwa mereka datang dengan niat baik dan siap bertanggung jawab.

  1. Sarana Hiburan dan Kearifan Lokal

Dalam praktiknya, pengadangan dilakukan dengan suasana meriah dan penuh canda. Biasanya, acara makin hidup dengan lempar-lemparan pantun khas adat. Suasananya santai, penuh tawa, dan di akhir biasanya ada kesepakatan soal uang pengadangan yang diserahkan sebagai bentuk simbolis .

Tradisi yang Mulai Tergerus?

Seiring waktu, tradisi pengadangan memang mulai jarang dilakukan, terutama di daerah perkotaan. Banyak yang menganggapnya sebagai formalitas atau bahkan beban tambahan dalam pernikahan. Namun di desa-desa yang masih memegang adat, tradisi ini tetap dilestarikan karena dianggap sebagai warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga

Bupati OKU Timur Dianugerahi Gelar Adat Tertinggi, Lembaga Adat Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya Komering

12 Januari 2026 - 11:29 WIB

Disarpus OKU Hidupkan Kembali Adat Nyambai Ugan di Festival Literasi Sumsel 2025

9 November 2025 - 14:15 WIB

OKU Bakal Dapat Tiga Bantuan Besar dari Kementerian Kebudayaan

20 Oktober 2025 - 12:00 WIB

Museum Gua Harimau Diresmikan Fadli Zon, Jadi Museum Termodern dan Terbesar Kedua di Indonesia

20 Oktober 2025 - 10:37 WIB

Menbud Fadli Zon Akan Resmikan Museum Canggih di OKU

17 Oktober 2025 - 17:31 WIB

Trending di Nasional