
40 Guru SD Di-Upgrade Kemampuannya Lewat Pelatihan Coding & memanfaatkan AI, Disiapkan Jadi Garda Depan Pendidikan Digital.
Ogannews.com — Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, 40 guru SD di Kabupaten OKU tak mau ketinggalan zaman.
Mereka mengikuti Pelatihan Coding dan Kecerdasan Artifisial (AI) yang digelar Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Sumatera Selatan, berkolaborasi dengan LPD Institut Teknologi dan Bisnis Palcomtech.
Bertempat di SDN 11 OKU, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa. Selama 11 hari, para pendidik dibekali pengetahuan teknologi mutakhir yang dulunya mungkin hanya dikenal anak-anak startup.
Jadwalnya pun terstruktur:
- In 1 (Sesi Pembuka): 2 – 6 Juli 2025
- On 1: 15 Juli 2025
- On 2: 28 Juli 2025
- On 3: 11 Agustus 2025
- In 2 (Sesi Penutup): 27 – 29 Agustus 2025
Pelatihan ini resmi dibuka oleh Plt Kadisdik OKU, Subri SPd, MSi, MPd, yang menggarisbawahi pentingnya pelatihan ini sebagai titik balik pendidikan.
“Guru harus dibekali keterampilan yang relevan dengan teknologi terkini. Pelatihan ini menyentuh aspek pedagogik, teknis, hingga kepribadian, sebuah paket lengkap untuk transformasi digital pendidikan,” tegas Subri, pada Rabu (2/7/25).
Ia menambahkan, pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, agar peserta didik siap menghadapi dunia yang sudah melaju ke industri 5.0.
“Tidak hanya agar guru paham teknologi, tapi juga agar siswa jadi inovator. Bukan cuma jadi pengguna gadget, tapi pencipta solusi,” ujarnya.
Turut hadir dalam pembukaan antara lain:
- General Manager Palcomtech, Khotop
- Kabid SMP Agus Stiawan, SE MM
- Kabid PTK Taufiq Hidayat, S.Kom MM
- Kasi PTK SMP Dr. Suci Cahyati, SPd M.Or
- Kasi PTK SD Sahri, SE M.Pd
Sementara itu, Khotop dari Palcomtech mengungkap bahwa kegiatan ini juga digelar di lima kabupaten lainnya, dan para peserta wajib menyelesaikan 5 modul resmi dari Kementerian.
“Ilmu yang mereka dapat harus dibagikan ke siswa. Ini bukan sekadar pelatihan, tapi misi regenerasi,” ungkapnya.
Apa yang dilakukan para guru ini bukan sekadar mengikuti tren. Ini adalah langkah nyata untuk membangun fondasi generasi masa depan yang bukan hanya tahu TikTok dan YouTube, tapi bisa menciptakan aplikasi, memecahkan masalah lewat logika, dan memahami etika teknologi. (*)










